Tampilkan postingan dengan label Warta Tani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Tani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Oktober 2012

Peringatan Hari Pangan Sedunia di Palangkaraya

PALANGKARAYA, KOMPAS.com — Peringatan Hari Pangan Sedunia secara nasional akan diadakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 18-21 Oktober 2012. Acara di Jalan Temanggung Tilung itu akan diisi, antara lain, dengan pameran, seminar, berbagai lomba, dan gelar teknologi.
Hari Pangan Sedunia sebenarnya diperingati setiap 16 Oktober atau bertepatan dengan ulang tahun Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO). Namun, menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Kalteng Efrensia P Umbing, rangkaian acara itu digelar pada akhir pekan supaya banyak masyarakat yang bisa datang.
Gelar teknologi akan menampilkan hasil-hasil yang dicapai Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian. Adapun pameran akan diikuti 33 provinsi.
Menurut Efrensia, lokasi Hari Pangan Sedunia sudah siap digunakan. "Pada Juli 2012, lokasi yang sama digunakan untuk Hari Koperasi Nasional. Jadi, tinggal dipasang tenda. Persiapan terus dilakukan. Kami berharap acara bisa dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono," tutur Efrensia, Sabtu (1/9/2012) di Palangkaraya.

Thomas Igo Udak: Mereka Panggil Saya Petani Gila

Mereka Panggil Saya Petani Gila

DI era 1980-an, wilayah Desa Paubokol, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum banyak dihuni warga. Perbukitannya tandus dan hanya ditumbuhi rumput ilalang dan tanaman perdu untuk menahan terik matahari. Lahan itu dinilai petani terlalu tandus untuk bercocok tanam. 

Kondisi gersang memaksa warga bermigrasi ke kota lain. Tetapi, kini lahan tandus itu sudah berubah menjadi hutan jati. Semua berkat kerja keras Thomas Igo Udak. 

Pemuda kelahiran Uruor, 7 Maret 1963, itu kembali ke Desa Paubokol setelah mengecap pendidikan di Flores. Thomas pergi meninggalkan desanya untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Teknik Menengah (STM) Bina Kusuma Ruteng, Kabupaten Manggarai. 

Di Flores yang relatif subur, Thomas melihat kondisi sejumlah petani terutama di Desa Mano, Kabupaten Manggarai Timur, yang memiliki kebun cengkih dan mampu menghidupi keluarga mereka secara layak. Melihat itu, Thomas yang bercita-cita menjadi arsitek mengubah niatnya. 

"Saat itu saya melihat ada kecocokan antara Desa Mano dan desa saya, Paubokol. Tetapi pertanyaannya, bagaimana mungkin petani di sini mampu membuat rumah yang bagus dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga sarjana, sedangkan di kampung saya tidak bisa?" ujar Thomas retoris. 

Terinspirasi Pastor Wesser, pengajar di STM Bina Kusuma yang membiayai gereja di Manggarai dengan menanam ribuan pohon cengkih dan berbagai jenis tanaman kayu-kayuan lain, Thomas menapaki jejaknya. "Sejak Pastor Wesser asal Belanda itu berhasil menanam cengkih, seluruh biaya dari negerinya diputus total karena pembiayaan di paroki tersebut hanya bertumpu dari hasil menjual cengkih dan jati di wilayah tersebut," kata Thomas. 

Puas menimba ilmu, Thomas yang baru lulus STM pada 1986 itu membulatkan tekad kembali ke kampung halamannya. Ia ingin merubah lahan tidur di desanya. 

"Saya sangat ingin mengubah tanah-tanah saya di desa yang dibiarkan telantar menjadi lahan tidur dan hanya ditumbuhi semak belukar yang kering kerontang," ujarnya. 

Thomas mengaku tanah warisan orangtuanya banyak. Tetapi tidak banyak digarap oleh keluarganya. Keluarganya ingin menanam sayur, ubi, pisang, padi, dan jagung, tetapi wilayah itu kurang mendukung niat mereka untuk bertani. 

"Prinsip mereka tanam sayur mayor, ubi, pisang lebih cepat menghasilkan uang untuk bisa biayai kebutuhan makan sehari-hari," kata Thomas. 


Pohon jati 

Saat Thomas kembali dari Manggarai, di desanya sudah memasuki musim penghujan. Ia mulai menanam pohon jati di belakang rumahnya. 

Warga desa disibukkan menanam padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-mayur, namun tidak demikian dengan Thomas. Pemuda itu sibuk memikul anakan pohon jati dari Waikomo yang berjarak 6 km dari desanya. Semua anakan jati itu dibawa Thomas dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan lebat menuju rumahnya. 

"Sehari saya bisa bolak-balik untuk memikul anakan jati empat kali sehingga kerabat dan saudara-saudara sekampung saya bilang, Thomas sudah gila. Mereka heran karena saya bukannya tanam ubi, jagung, atau padi seperti yang mereka lakukan. Justru mereka menilai saya sudah gila karena akan makan daun jati," kata Thomas menirukan cibiran warga desa saat itu. 

Penghinaan itu tidak Thomas acuhkan. Ia tetap fokus menghijaukan lahan gersang tersebut. Thomas teringat apa yang dikatakan Pastor Wesser, "Kalau mau sukses, fokus dan tanam dalam jumlah besar. Jangan kerja tanggung-tanggung." Kalimat itu terus-menerus menyemangati Thomas menanami kebun warisan keluarganya. 

"Karena saya harus membuktikan kepada warga desa bahwa saya benar-benar waras, ingin mengubah lahan tandus dan kering ini dengan hutan jati yang tidak saja menyuplai oksigen untuk manusia, tetapi juga mengubah keadaan gersang menjadi lebih sejuk. Terus terang saat itu saya tidak bermimpi menjadi kaya dengan kayu jati yang saya tanam ini." 


Mulai dilirik 

Seiring waktu, kayu-kayu yang ditanamnya mulai dilirik pemerintah setempat sebagai sampel pengolahan lahan tidur, dan banyak orang ingin membeli pohon-pohon jati yang ditanam. "Karena sudah banyak yang berkurang, saya mencari lahan baru untuk ditanami setiap musim hujan tiba," ujarnya. 

Thomas awalnya hanya menanam di lahan seluas 1 hektare. Karena banyak permintaan kayu jadi, ia kemudian meminta bantuan warga. Ia menggunakan tenaga warga desa untuk menanam lebih banyak lagi kayu jati di lahan kebun miliknya. 

"Saya bayar tenaga per hari Rp30 ribu. Kerabat dan warga desa tidak keberatan bekerja membantu menanam jati di kebun-kebun saya karena mereka ingin dapat uang upah harian. Bagi saya menanam itu menabung," kata Thomas. 

Berkat usaha swadayanya itu, kini sedikitnya 20 hektare lahan dipadati tanaman jati yang sebagian besar sudah dipanen. Bukan semata pohon jati yang ditanam, melainkan juga pohon mahoni. 

"Menurut penelitian ahli tanaman, pohon jati sangat mengisap air, maka saya selingi dengan tanam mahoni karena sifat mahoni ialah menampung air," ujarnya menirukan saran para ahli tanaman komoditas dalam kesempatan kunjungan mereka ke lahan jati yang sudah bisa ditanami. 

Berkat kegigihan menghutankan lahan tidur di wilayahnya, suami Maria Kewa Wutun itu meraih berbagai penghargaan di bidang lingkungan hidup. Antara lain penghargaan dari Bupati Lembata pada 2004 dan penghargaan Penghijauan Swadaya kategori perorangan tingkat Kabupaten Lembata. 

Tidak hanya itu, pada 2006 Gubernur NTT Piet Alexander Tallo menganugerahkan penghargaan sebagai pengelola lingkungan (kalpataru) tingkat provinsi karena telah melaksanakan penghijauan pada lahan kritis secara swadaya. 

Di tahun yang sama, Thomas meraih penghargaan Kalpataru kategori terbaik pertama nasional bidang penghijauan dan konservasi alam dari Departemen Kehutanan RI. 

Thomas berharap pemerintah harus memotivasi warga Lembata untuk terus menanam. Pasalnya Lembata yang masih kering dan panas itu hanya mampu disejukkan dengan menanam dan menanam. 

"Kalau dapat, pemerintah kabupaten, provinsi, dan Indonesia secara umum menirukan gaya Raja Thailand, yang menghadiahi warganya dengan berbagai jenis tanaman dalam setiap kunjungannya, untuk memotivasi warga tanam dan tanam karena dengan menanam kita juga sedang menabung," ujar Thomas antusias.(M-5)

Senin, 02 Juli 2012

RPP Tembakau Disahkan, Ini Sederet Pertanyaan yang Harus di Jawab Menkes

Jakarta, Seruu.com - Direktur Riset dan Advokasi Katalog Indonesia, Andriea Salamun mengirimkan surat terbuka berisi 14 pertanyaan yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi terkait akan disahkannya RPP Tembakau.
Berikut isi surat terbukanya:

Surat Terbuka untuk Menteri Kesehatan
Terkait rencana pemerintah yang akan segera mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau.

Menurut kami seharusnya pengaturan dalam regulasi harus mengandung dan mengundang kebijakan dan kearifan serta tidak menimbulkan problem baru di masyarakakat.

Beberapa pertanyaan Katalog Indonesia yang harus dijawab Menteri Kesehatan, Ibu Nafsiah Mboi, antara lain:

1) Apakah RPP Tembakau sudah mengadopsi semua kepentingan stakeholders tembakau dan produk olahannya, sehingga ketika diundangkan tidak menimbulkan pertentangan di masyarakat?
2) Apakah RPP Tembakau diambil dari norma dan kaidah hukum Indonesia. Dari mana data dan sumber galian legal drafting RPP, apakah murni digali dan diadopsi dari hukum yang hidup dan berkembang di Indonesia?

3) Mengapa RPP tentang tembakau dan produk olahannya menjadi prioritas Kemenkes baru, apakah ada urgensinya sehingga RPP ini diprioritaskan?

Bukankah banyak produk barang/makanan yang jauh lebih berbahaya, mengapa tidak pernah menjadi bahasan prioritas Kemenkes?

Misalnya tentang asap kendaraan bermotor, asap pabrik, limbah pabrik, limbah tambang atau makanan yang mengandung zat adiktif berbahaya seperti fast food, junk food dan beribu jenis jajanan anak-anak Indonesia, yang mengandung zat adiktif jauh lebih berbahaya dari tembakau.

4) Apakah definisi derajat kesehatan masyarakat hanya didasarkan pada terbebasnya asupan asap rokok?

5) Apakah rokok menjadi penyebab ancaman pelemahan derajad kesehatan masyarakat dan masa depan anak-anak Indonesia?
Apakah anak-anak akan terenggut masa depannya jika menjadi perokok?

6) Apakah dengan merokok karakter dan masa depan anak Indonesia terdegradasi?

7) Apakah asap rokok menjadi biang dari segala persoalan anak-anak dan derajat kesehatan masyarakat Indonesia?

8) Apakah dengan terbebasnya masyarakat dari asap rokok martabat bangsa akan terdongkrak?

9) Apakah Kemenkes sudah meyakini secara metodologi atau norma keilmuan yang sahih bahwa rokok yang menjadi biang dari segala penyakit seperti yang tercantum dalam label warning dalam kemasan rokok?

10) Apakah Kemenkes sudah memiliki data dari seluruh perokok di Indonesia berapa data statistik perokok yang menderita penyakit seperti yang diklaim dalam label warning bungkus rokok?

11) Jika kemudian dengan regulasi yang ada, pabrik olahan tembakau gulung tikar, apakah Kemenkes bisa mengatasi dampak penutupan dan antrian pengangguran akibat penutupan pabrik rokok?

12) Apakah bisa memberi mereka pekerjaan atau paling tidak santunan sosial, kalau bisa untuk berapa lama?

13) Apakah RPP itu sudah diperhitungkan manfaat dan mudharatnya jika diundangkan?

14) Jika mudharatnya lebih besar apakah Kemenkes sudah siap mengantisipasi efek dominonya?

Jika bermanfaat siapa yang diuntungkan, repulik dan publik atau penguasa modal (asing) dan segelintir orang pembayar pajak besar?

Jakarta, 02 Juli 2012

Andriea Salamun (Direktur Riset dan Advokasi Katalog Indonesia)


Untuk diketahui, Lembaga Katalog Indonesia dibentuk sebagai lembaga yang fokus pada penguatan demokrasi melalui pemanfaatan akses informasi publik. Kegiatan yang dilakukan antara lain, kajian kebijakan, riset, kampanye media dan sebagainya. [Cesare]
sumber : http://www.seruu.com/utama/nasional/artikel/rpp-tembakau-disahkan-ini-sederet-pertanyaan-yang-harus-di-jawab-menkes

Selasa, 19 Juni 2012

PETANI MESTI MELEK TEKNOLOGI

Petani masa kini harus mengikuti perkembangan jaman serta teknologi informasi. Bukan saatnya lagi petani hanya mengandalkan cangkul dan sabit saja. Mereka pun dituntut untuk memegang laptop dan melek terhadap internet. Tetapi bukan berarti mengabaikan tugas pokok bercocok tanam mengolah lahan pertanian. Justru dengan bantuan teknologi, hasil pertanian bisa lebih berkembang secara pesat bahkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Persepsi demikian sudah tertanam dalam benak Hendra "Kribo" sejak dirinya merintis pertanian berbasis organik pada tahun 2002 lalu. Bahkan dari hasil pertanian tersebut dirinya mampu menyejahterakan anggota keluarganya hingga masyarakat yang bermukim di lingkungan Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
Ketika memutuskan berhenti dari pekerjaannya lamanya sebagai guide turis di pulau Bali dan pindah haluan menjadi petani organik, Kang Kribo --panggilan akrab lelaki berusia 53 tahun ini, telah menemukan jalan hidupnya. Bertani padi organik menjadi tumpuan utama dia hingga mampu menyekolahkan ke-4 orang anaknya. Bahkan yang paling besar kini kuliah di Institut Pertanian Bogor. 
Hasil pertanian organik yang ia kembangkan bahkan telah dilirik oleh beberapa negara besar, seperti Jepang, Malaysia, Australia, bahkan Amerika. Tidak jarang pula Kang kribo keliling dunia hanya untuk sekedar memberikan kelas kuliah khusus bagi para profesor pertanian di sejumlah negara tersebut. Beberapa kali ia pun sempat ditawari guna melakukan kontrak kerja menjadi fasilitator pertanian di negara-negara adikuasa. Tetapi demi tanah air, tawaran tersebut tentu saja ditolaknya mentah-mentah, dan Kang Kribo memilih menjadi petani mandiri mengandalkan 1 Ha lahan warisan orangtuanya.
Kini dengan lahan pertanian yang terus bertambah, Kang Kribo makin mempertajam sistem pertanian organik. Pola ini lebih menguntungkan dari pada pertanian konfensional yang masih ketergantungan terhadap pupuk urea serta pestisida kimia. Pasalnya hasil pertanian organik ternyata bisa berlimpah 3 kali lipat bila dibanding pertanian konfensional. 
"Hasil panen tiga kali lipat dan harga jual beras organik jauh lebih lebih mahal dibanding beras biasa," ujarnya.
Meski pada awalnya ia sempat disebut orang gila, karena menanam padi hanya satu butir saja untuk setiap rumpunnya, tetapi kini setelah mereka melihat hasil pertanian organik, semua orang malah datang dan ingin belajar pola pertanian yang dirintis lelaki ini.
Setelah memenuhi pasar lokal dan kebutuhan keluarga, beras organik inipun mulai diimpor ke beberapa negara. Bahkan setiap tahunnya order permintaan padi organik terus bertambah. Kini tugasnya hanya satu, yakni bagaimana mengubah pola pikir petani lama yang masih ketergantuan cara konfensional guna beralih 
menjadi petani organik seperti dirinya. 
(Aris MF/ ”KP”)***

Kamis, 07 Juni 2012

Rp 437 Miliar Untuk Perkebunan dan Pertanian Perbatasan Sarawak

Sintang Pemerintah positif mengucurkan anggaran hingga Rp 437 miliar untuk daerah yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia yakni Kabupaten Sintang, Kalbar. Nantinya, dana sebanyak itu dipergunakan tidak hanya untuk pembangunan insfrastruktur seperti jalan dan listrik, melainkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat seperti pertanian dan perkebunan.

Hal itu dinyatakan Staf Ahli Menteri Percepatan Daerah Tertinggal (PDT) Rahmat Tatang disela-sela Rapat Kordinasi Percepatan Pembangunan Daerah Perbatasan di Daerah Tertinggal di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Rabu (6/6/2012).

“Membangun infrastruktur tidak sejajar dengan percepatan ekonominya. Seperti membangun jalan lalu ekonomi tumbuh. Kalau pemikirannya seperti itu, yang tumbuh orang-orang kuat. Yang lemah minggir ke pedalaman. Karena itu yang dibangun adalah bagaimana masyarakaat menjadi perlu. Pembangunan ekonomi didukung dengan membangun manusiawi yang memadai, pendidikan, kesehatan, ekonomi masyakat,“ kata Rahmat Tatang.

Tatang pun menegaskan, pemerintah daerah tidak perlu malu dengan berbasis pertanian ataupun perkebunan.

“Di dunia, tidak ada pemerintah yang bangkrut karena berbasis pertanian. Bahkan Brasil mampu mengalahkan kapitalis dengan pertanian. Kebijakan Kabupaten Sintang sudah betul, berbasis pertanian dan perkebunan,“ ungkap Rahmat Tatang mendukung.

Menurut Bupati Sintang, perkebunan dan pertanian menjadi pilihan karena 80 persen penduduk mengandalkan ekonomi pada 2 sektor tersebut.
“Beginilah realita fakta yg kita hadapi. Dengan luas 21.000km2, ini lebih luas dari propinsi Banten. Jumlah penduduk kami 369.000 jiwa, 80 persen bekerja di perkebunan dan pertanian. Karet, sawit, lada, kakau, kopi. Persoalan kami adalah pupuk. Kami minta gudang pupuk yang bisa mencover kabupaten disini,“ tukas Bupati Sintang Milton Crosby dalam kesempatan bersamaan.

Sintang merupakan wilayah berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Untuk mencapai Sintang dapat menggunakan pesawat kecil dari ibukota propinsi Kalbar, Pontianak selama 45 menit. Namun karena tiket yang mahal, warga masyarakat lebih sering menggunakan kendaraan darat yang memakan waktu hingga 10 jam untuk jarak 400 km. Sementara jalan alami melewati Sungai Kapuas, mulai ditinggalkan kecuali untuk distribusi sembako.

(Ari/mad)

Senin, 04 Juni 2012

Pertanian Selamatkan Lingkungan, Ekonomi Perkotaan


Dunia beramai-ramai mewujudkan potensi hutan dan pertanian untuk menyelamatkan lingkungan dan ekonomi perkotaan.
Potensi ini sudah lama disadari oleh masyarakat dunia. Dalam konferensi tripartit internasional untuk mengatasi masalah kemiskinan dan masalah perkotaan di Nairobi, Kenya pada 2009, hutan dan pertanian menjadi dua solusi penting guna meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mengatasi dampak perubahan iklim.
Hutan dan pertanian urban juga bisa menjamin keamanan pangan dan membuka lapangan kerja ramah lingkungan terutama bagi masyarakat miskin.
Dua sektor ini juga bisa menghijaukan kota, mencegah banjir, longsor dan mengurangi jejak energi (energy footprint).
Dengan bertani atau berkebun, penduduk kota juga bisa mendaur ulang air limbah organik dan menggunakannya untuk menyiram tanamam, menanam bunga, buah dan mengairi hutan kota.
Dengan kata lain, hutan dan pertanian perkotaan bisa menjadi jaring pengaman sosial terutama saat terjadi krisis ekonomi.
Pemerintah kota bisa mengubah lahan di kawasan banjir menjadi hutan atau lahan pertanian guna mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim.
Kota-kota besar dunia, seperti Jakarta, hingga saat ini masih kekurangan ruang terbuka hijau, yang banyak disalahgunakan untuk gedung atau pemukiman.
Masyarakat juga bisa memanfaatkan atap bangunan untuk lahan pertanian, menggunakan beragam teknik salah satunya adalah pola tanam hidroponik.
Atap-atap bangunan bisa menjadi taman yang produktif, menjadi kebun milik pribadi atau komunitas yang ditanami sayur atau buah-buahan guna membantu mengurangi emisi dan mendinginkan ruangan.
Guna memermudah integrasi hutan dan sistem pertanian guna menyelamatkan lingkungan dan ekonomi di perkotaan, diperlukan inspirasi, contoh-contoh sukses dari berbagai negara.
Di Amman, Yordania, hutan kota menjadi salah satu pilar program pembangunan kota yang bersih yang didukung oleh Bank Dunia.
Di Freetown, Sierra Leone, semua rawa dan lahan di dataran rendah di perkotaan diubah menjadi lahan pertanian urban.
Kota Toronto, Kanada memiliki rencana adaptasi perubahan iklim dengan program pembangunan taman dan kebun berbasis komunitas.
Kota Durban, di Afrika Selatan memromosikan program atap hijau produktif sebagai sarana penadah air hujan (storm water). Program yang sama juga diterapkan di Kota Brisbane, Australia.
Pemerintah kota Makati City, di Filipina mendorong masyarakatnya untuk menanam pohon buah di ruang terbuka.
Upaya pemulihan kawasan pinggiran kota yang sering dilanda banjir di Trinidad, Bolivia juga bisa menjadi inspirasi positif bagi masyarakat dunia.
Wilayah pinggiran kota Trinidad sebelumnya adalah wilayah kumuh yang dihuni oleh pendatang dan masyarakat miskin perkotaan. Penduduk kota mengandalkan pasokan makanan dari kota Santa Cruz yang berjarak 500 km dari kota Trinidad.
Pasokan ini sering terganggu akibat kenaikan harga bahan bakar, kondisi cuaca ekstrem, hingga kerusuhan sosial. Biaya transportasi yang ditanggung penduduk perkotaan dan pedagang makanan mencapai 20% dari pengeluaran mereka setiap bulan.
Untuk itu, pemerintah kota bekerja sama FUNDEPCO dan OXFAM, membangun 100 hektar lahan pertanian dengan cara meninggikan lahan di wilayah pinggiran perkotaan (peri-urban).
Lahan pertanian ini juga berfungsi sebagai kanal penahan banjir. Berbagai varietas pun ditanam, bebek dan ayam diternakkan di sepanjang kanal. Keindahan dan lingkungan kanal yang tertata bersih dan rapi diharapkan menjadi daya tarik bagi para wisatawan.
Dalam jangka panjang pemerintah kota akan membangun musium, pusat kerajinan dan menyediakan perahu untuk sarana transportasi wisatawan yang ingin menelusuri dan menunjungi restoran di sepanjang kanal.
Dengan berbagai inovasi ini, hutan dan pertanian kini semakin menjadi tren di lingkungan perkotaan, yang mampu menyelamatkan lingkungan dan ekonomi warga.
Catatan redaksi:
Data-data dalam artikel ini diambil dari laporan UN Habitat berjudul Urban World: Bringing blue skies back to our cities yang diterbitkan pada Oktober 2011.

Jumat, 04 Mei 2012

Syukri, Petani Pemulia Benih Jagung

Syukri, Petani Pemulia Benih Jagung

Liputan6.com, Solok
: Berjalan di antara ladang jagung percobaan menjadi keseharian Syukri--petani jagung di Solok, Sumatra Barat. Sebagai petani sekaligus pemulia benih jagung, hingga kini Syukri telah menghasilkan tiga varietas jagung hibrida.

Syukri mengaku belajar bertani jagung otodidak dari buku dan setelah mendapat bibit jagung unggul dari Negeri Paman Sam. Usahanya yang menghasilkan tiga varietas jagung hibrida diakui secara ilmiah, setelah melalui saringan ketat yang dilakukan para guru besar bidang pertanian.

"Setelah lolos berbagai uji, kualitas itu (varietas jagung hibrida) boleh dilepas," ujar pakar pertanian Universitas Andalas, Sutoyo.

Setelah berhasil melepas tiga varietas, Syukri dipercaya oleh sebuah BUMN untuk memproduksi bibit jagung secara massal. Dia kemudian mengajak warga di kampungnya ikut menanam jagung untuk dijadikan bibit dengan pola bapak angkat. Ajakan Syukri mendapat sambutan warga di kampungnya yang tertarik untuk menjadi petani.

Lapangan kerja tidak hanya bagi petani di lahan kebun jagung, pun di tempat pengolahan jagung untuk dijadikan bibit. "Jagung ini murni dan lebih baik. Selain itu, kita jadi bisa membuka lapangan kerja baru," jelas Syukri.

Sebagai petani dan pemulia benih yang berhasil, Syukri masih terus berupaya menemukan bibit unggul yang terbaik. Dan apa yang dihasilkan tentu tidak datang tiba-tiba. Perlu upaya keras dan dukungan banyak pihak, terutama warga terdekat.(ASW/ULF)

Selasa, 10 April 2012

SMKN 1 Pacet, Ubah Sisa Panen Jadi Keripik

Daun sisa panen sering kali dijadikan sampah atau pakan ternak. Padahal, daun sisa panen bisa bernilai jual. Di tangan siswa SMKN 1 Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, daun-daun sisa panen diolah menjadi keripik, dikemas bagus, dan diberi merek Edutekpan.

Pacet dikenal sebagai daerah penghasil sayuran. Namun, saat panen melimpah, petani tidak menikmati untung karena harga jual merosot. Berangkat dari keprihatinan melihat nasib petani, sebagai sekolah menengah berbasis program keahlian pertanian, SMKN 1 Pacet mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan berbagai jenis daun sisa panen. Salah satunya, daun singkong yang terbuang saat panen raya singkong. Daun yang biasanya hanya dijual untuk sayur diolah menjadi keripik berbentuk bulat pipih dengan rasa mirip keripik paru.

Daun wortel pun yang biasanya dibuang atau menjadi pakan ternak diolah menjadi keripik. Keripik Edutekpan, kepanjangan dari edukasi teknologi pengolahan hasil pertanian, ini dikemas dalam kantong plastik 100 gram dijual Rp 7.000 per bungkus.

Pengolahan keripik dari dedaunan terus dikembangkan. Daun lokatmala yang tumbuh liar di daerah pegunungan dan sering kali tidak dimanfaatkan ternyata bisa dijadikan keripik renyah yang nikmat. Produk lain produksi SMKN 1 Pacet adalah keripik bayam, cheese stick bayam merah dan hijau, pangsit jamur, serta yogurt kedelai.

Semula keripik Edutekpan hanya dipasarkan siswa di sekitar Pacet dan Cipanas yang merupakan daerah wisata. Kini, keripik yang dikembangkan pusat bisnis Edutekpan sudah merambah Jakarta dan sejumlah kota lain. Kantin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) minta dikirim rutin. Setiap minggu dikirim beragam jenis keripik 100-150 bungkus. Keripik ini juga menjadi salah satu camilan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar acara mantu di Cipanas.

Dalam berbagai pameran di Jakarta dan kota-kota lain ataupun kunjungan sekolah lain atau masyarakat ke SMKN 1 Pacet, beragam keripik Edutekpan terjual habis. Di ajang pameran, siswa mengemas lima jenis keripik dalam tas didesain khusus. Dengan harga jual Rp 35.000- Rp 40.000, keripik bisa terjual hingga 200 paket.

Kantong plastik ataupun tas kertas untuk mengemas keripik diproduksi sendiri oleh siswa. Stiker Edutekpan didesain siswa program keahlian teknik komputer jaringan.

”Proses pengolahan dan pengemasan dilakukan di sekolah. Siswa bergiliran memproduksi keripik. Untuk tiap jenis daun, diproduksi keripik 5-10 kilogram per hari,” kata Wakil Kepala SMKN 1 Pacet Nandang Jauharudin.

Akib Ibrahim, Kepala SMKN 1 Pacet, menuturkan, sekolah mengembangkan sistem pembelajaran blok. Pembelajaran dilaksanakan selama tiga bulan khusus teori, tiga bulan berikutnya praktik lapangan.

Camilan sehat

Keripik daun singkong produksi SMKN 1 Pacet menjadi favorit masyarakat. Keripik ini diberi rasa seperti keripik paru. Tentu saja lebih sehat dan tidak mengandung kolesterol karena terbuat dari sayuran.

Cara pembuatan keripik daun ini sederhana dan bisa dilakukan dalam skala rumah tangga ataupun industri kecil.

”Kami ingin membagi pengetahuan dan keterampilan membuat keripik daun singkong ke berbagai kalangan supaya kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, khususnya masyarakat di pedesaan,” kata Nandang.

Bahan baku utama untuk keripik daun singkong adalah daun singkong, tepung beras, tepung tapioka, dan telur. Daun singkong dicuci, direbus selama lebih kurang 15 menit, kemudian daun rebus dipotong-potong serta dicampur telur, tepung tapioka, tepung beras, dan bumbu.

Adonan dimasukkan dalam kantong plastik bulat panjang dan dikukus selama 30 menit. Setelah dingin, adonan dipotong tipis dengan ukuran yang sama, digoreng, lalu dikemas.

Pertanian hidroponik

Sekolah yang mendapat dukungan antara lain dari pengusaha Bob Sadino ini juga mengembangkan pertanian modern dengan sistem hidroponik. Tanaman seperti terung, paprika merah, kuning, dan hijau, serta tomat cherry dikembangkan untuk memenuhi permintaan pasar modern di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Penanaman secara hidroponik ini melibatkan siswa dengan program keahlian budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Produksi dilakukan secara rutin karena sekolah memiliki kerja sama dengan beberapa perusahaan pemasok hasil pertanian ke pasar modern.

Untuk keperluan pertanian itu, di sekolah ini ada tiga ”rumah kaca” yang dibangun dari rangka bambu dan atap plastik.

Usep Munawar, pembimbing praktik industri dan pengelola hidroponik SMKN 1 Pacet, mengatakan, produksi tanaman pangan dan tanaman hias dari sekolah ini sudah masuk ke sejumlah supermarket besar.

”Kepercayaan dunia usaha memakai produksi pertanian hidroponik kami sudah ada. Namun, sekolah tidak bisa memenuhi semua permintaan,” kata Usep.

Demi menjaga pasokan ke perusahaan pemasok hasil pertanian, sekolah mengembangkan kemitraan dengan 20 petani di Pacet. Para petani diminta menghasilkan tanaman sesuai standar yang ditetapkan supermarket.

Kerja sama dengan petani memberikan keuntungan lain. Para siswa bisa sekaligus praktik bersama petani untuk menghasilkan produksi pertanian.

Sekolah ini juga memiliki hotel yang memanfaatkan kawasan pertanian. Ada 10 kamar yang tersedia untuk wisatawan. Fasilitas ini dikembangkan siswa dari program keahlian perhotelan dan tata boga.

Pusat pelatihan

Kemampuan SMKN 1 Pacet mengembangkan diri menjadi sekolah menengah pertanian membuat banyak pihak melirik potensinya. SMKN 1 Pacet yang berdiri tahun 2004 semula berupa sekolah kecil dalam waktu singkat menjadi salah satu SMK pertanian unggul di Indonesia.

Sekolah pun membagi pengalaman membangun keberhasilan pendidikan pertanian. Dalam sebulan, ada 4-5 kunjungan dari berbagai pihak ke sekolah ini. Belum lagi permintaan pelatihan-pelatihan terkait dengan pertanian ataupun manajemen sekolah.

Nandang mengatakan, pelatihan pembuatan keripik daun dan pertanian hidroponik banyak diminati. Yang terbaru, pihak sekolah melatih 55 pegawai Kementerian ESDM yang hendak pensiun untuk bisa berwirausaha. Selain itu, ada sejumlah SMK, organisasi perempuan mulai dari kelompok PKK dan pengajian, serta karang taruna.

Sekolah ini juga memiliki kerja sama dengan guru-guru SMK di Kepulauan Natuna sejak tahun 2010. Para guru di Natuna rutin datang untuk menimba ilmu mengembangkan SMK di wilayahnya.

Lulusan sekolah ini tiap tahun terpilih untuk ikut program magang pertanian ke Jepang. Prestasi kerja lulusan SMKN 1 Pacet di Jepang selama ini cukup bagus sehingga pihak Jepang terus memberi kesempatan magang.

Kewirausahaan pertanian yang dikembangkan sekolah ini membuktikan bahwa pertanian sesungguhnya memiliki nilai jual dan patut dikembangkan Indonesia sebagai negara berakar agraris.

sumber :  http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/02/1011111/SMKN.1.Pacet.Ubah.Sisa.Panen.Jadi.Keripik

The (real) green revolution

Better result: A bountiful harvest fertilized with cow manure.
Better result: A bountiful harvest fertilized with cow manure.

Hidden behind cement block walls, behind grid- locked roads of tourist buses, trucks and motor scooters, is another Bali. 

Behind the acne of villas spotting the landscape like pimples on a pretty girl, behind the hotels that would turn Balinese into a society of servants in a constructed landscape of fountains, palms and swimming pools, there is a quiet revolution happening: Farmers are reclaiming Bali through the organic farming practices of their ancestors.

This is Bali’s Green Revolution, where farmers are returning to traditional farming practices that ensure healthy soils and healthy produce.
Just off the highway in Blahbatuh, Gianyar, is 137 hectares of farmlands owned by two villages that are growing organic rice, fruits and vegetables under the  provincial Government’s SIMANTRI program.
SIMANTRI is an integrated, sustainable and organic farming system already being applied by 150 farming groups across Bali, according to Bali’s Agriculture Department officer, Wayan Segara, who visited the Blahbatuh farming cooperatives on  Monday.
“The goal is to have all farming in Bali organic. We are doing this through the SIMANTRI program, which has farms producing fruit trees, vegetables, fish and shrimp ponds, rice fields and livestock in complete systems,” said Segara.
Under the system, livestock produce fertilizer and pesticides from manure and urine and farmers no longer need to invest in expensive chemical based products. Farms also grow a variety of produce, rather than depending on rice harvest only, effectively diversifying income streams.
Good source: Cattle are the lynchpin of Bali’s SIMANTRI integrated farming system in Blahbatu.
Good source: Cattle are the lynchpin of Bali’s SIMANTRI integrated farming system in Blahbatu.
So dedicated is Bali’s Government to integrated organic farming that from 2012 all organic farmers will receive subsidies to assist their shift from chemical-based farming to organic farming, said Segara as he plucked a tomato from the organic garden in the organic-farming village of Taruna in Blahbatuh. “You can eat these foods straight from the bush and they are delicious.”
Besides producing quality foods and protecting soils into the future, it is expected that Bali’s shift to organic farming will also protect the island’s tourism, which has been built on the back of agriculture and Hindu traditions, according to media consultant and member of the Blahbatuh organic villages, I 
Nyoman Baskara of the Tamiang Bali Foundation. Baskara was a member of provincial Governor Made Pastika’s think tank on protecting Bali’s agricultural sector.

“The first step is to build perceptions of organic farming within Government departments, stakeholders and within the legislative assembly. We must have the same vision on this. Stakeholders include farmers, agribusiness and end users, such as hotels, supermarkets and restaurants. Once that vision is united, we can build a full agricultural policy with programs like SIMANTRI, but the key strategy is how to create a new paradigm on tourism,” said Baskara who was instrumental in developing the organic village in Blahbatuh.
In that new paradigm, the role agriculture has played in Bali’s tourism development would be recognized and supported into the future.
“Agriculture has given tourism resources such as rice field terraces and traditional culture, places of interest to tourists. Farmers make Bali look interesting. They have not asked for money, but the tourism industry must understand farmer needs and share the benefits of tourism,” said Baskara who is keen to develop a “Green Corporate Social Responsibility” concept to support Bali’s farming and traditional culture.
Bali’s fertile fields are giving way to villas and hotels, despite Government laws on the protection of productive lands, says Baskara, and the bottom line is farming incomes.
A shift to organic, integrated farming across the island with produce sold to hotels and restaurants, and the formation of farmer unions would allow farmers to set pricing at the farm gate, ensuring livable incomes and sustainable farming into the future, explained Baskara, who believes there can be a healthy synergy between agriculture and tourism.
United: Working together for a sustainable farming future based on organic planting.
United: Working together for a sustainable farming future based on organic planting.
“We need to build synergy within farming communities then make agriculture corporate farming so we can improve farmers’ quality of life and incomes, so we must work as one,” said Baskara who began working with his Blahbatuh village on a return to organic farming in 2006. Farmers across the 137 hectares of organic, integrated farming in Blahbatuh are not yet seeing huge increases in their income, but are seeing small successes.
“One litre of urine from cows is selling for Rp 2,000 (US$0.23) and replaces pesticide, so farmers have income from its sale and don’t have the costs of buying fertilizers and pesticides,” said Baskara who with farmers is now looking to “optimize” down time in farming.
“More than 60 percent of a farmer’s time is wasted during the growing season, so we are asking how to optimize that with value adding,” said Baskara of the opportunities for farmers to add to their primary incomes through the production and sale of organic foods, fertilizers and pesticides.
There is also an opportunity for the tourism industry to become part of Bali’s new green revolution by supporting these farmers whose terraced rice fields  have made the island famous.

— Photos by JP/J.B.Djwan


The farm gate

Wayan Sadyo of the Gapoktan farmer’s collective in Blahbatuh was born to be a farmer. 

There is a light in his eyes as he discusses the benefits of organic farming, of the farming methods his grandparents used.

“This year we will produce around 3 tons of organic fertilizer from the cattle. We have just had an order for one-and-a-half tons from Klungkung. It’s being sent to Nusa Penida for a banana farm,” says Sadyo as he points to the tomatoes, papaya, mangoes, chilies, fish and shrimp being grown alongside his village rice fields under the Government SIMANTRI integrated organic farming system.

Under the system, cattle become the backbone with their manure and urine harvested and used to enrich soils and protect against plant disease and pest infestation. 

Recent convert to organic, integrated farming is subak head, I Nyoman Sucitra. Within just six months of changing his farming practices, the lifelong farmer says he is seeing results.

“My rice yield was down a little bit, but the quality of rice is far higher. But also I don’t have to pay the costs of fertilizer, so as a farmer I feel this is the right road and a road my children can follow. We can continue to pass down this land as it was passed to us,” says Sucitra of Bali’s green revolution that could protect farmers and save the tourist industry into the future.

—JP/Trisha Sertori


Senin, 02 April 2012

Badan Litbang Pertanian

Aslm Wr Wb.
Salam Sejahtera untuk kita semua,
sekedar info saja kawan-kawan Mahasiswa Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia, sangat bagus untuk sering-sering berkunjung ke web litbang deptan, buat update info-info pertanian juga beberapa jurnal ilmiah :)

Imam M Lubis
  

http://www.litbang.deptan.go.id

Rabu, 16 Februari 2011

Mentan Panen Perdana Padi dengan Pupuk Semi Organik

Menteri Pertanian DR. Ir H Suswono, MMA didampingi Dirjen Tanaman Pangan,Ir. Udhoro Kasih Anggoro,MS,  Anggota Komisi VIII DPR-RI, Jujuli Zueni, Bupati Lebak H Mulyadi Jayabaya dan jajarannya melakukan panen padi perdana menggunakan pupuk semi organik (PSO) Kabupaten Lebak tahun 2011 di Kampung Tambak, Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak pada Jum’at, 4 Pebruari 2011. Pada kesempatan tersebut, Mentan juga melakukan dialog langsung dengan para petani dan peternak.