Kamis, 04 Oktober 2012

Thomas Igo Udak: Mereka Panggil Saya Petani Gila

Mereka Panggil Saya Petani Gila

DI era 1980-an, wilayah Desa Paubokol, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), belum banyak dihuni warga. Perbukitannya tandus dan hanya ditumbuhi rumput ilalang dan tanaman perdu untuk menahan terik matahari. Lahan itu dinilai petani terlalu tandus untuk bercocok tanam. 

Kondisi gersang memaksa warga bermigrasi ke kota lain. Tetapi, kini lahan tandus itu sudah berubah menjadi hutan jati. Semua berkat kerja keras Thomas Igo Udak. 

Pemuda kelahiran Uruor, 7 Maret 1963, itu kembali ke Desa Paubokol setelah mengecap pendidikan di Flores. Thomas pergi meninggalkan desanya untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Teknik Menengah (STM) Bina Kusuma Ruteng, Kabupaten Manggarai. 

Di Flores yang relatif subur, Thomas melihat kondisi sejumlah petani terutama di Desa Mano, Kabupaten Manggarai Timur, yang memiliki kebun cengkih dan mampu menghidupi keluarga mereka secara layak. Melihat itu, Thomas yang bercita-cita menjadi arsitek mengubah niatnya. 

"Saat itu saya melihat ada kecocokan antara Desa Mano dan desa saya, Paubokol. Tetapi pertanyaannya, bagaimana mungkin petani di sini mampu membuat rumah yang bagus dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga sarjana, sedangkan di kampung saya tidak bisa?" ujar Thomas retoris. 

Terinspirasi Pastor Wesser, pengajar di STM Bina Kusuma yang membiayai gereja di Manggarai dengan menanam ribuan pohon cengkih dan berbagai jenis tanaman kayu-kayuan lain, Thomas menapaki jejaknya. "Sejak Pastor Wesser asal Belanda itu berhasil menanam cengkih, seluruh biaya dari negerinya diputus total karena pembiayaan di paroki tersebut hanya bertumpu dari hasil menjual cengkih dan jati di wilayah tersebut," kata Thomas. 

Puas menimba ilmu, Thomas yang baru lulus STM pada 1986 itu membulatkan tekad kembali ke kampung halamannya. Ia ingin merubah lahan tidur di desanya. 

"Saya sangat ingin mengubah tanah-tanah saya di desa yang dibiarkan telantar menjadi lahan tidur dan hanya ditumbuhi semak belukar yang kering kerontang," ujarnya. 

Thomas mengaku tanah warisan orangtuanya banyak. Tetapi tidak banyak digarap oleh keluarganya. Keluarganya ingin menanam sayur, ubi, pisang, padi, dan jagung, tetapi wilayah itu kurang mendukung niat mereka untuk bertani. 

"Prinsip mereka tanam sayur mayor, ubi, pisang lebih cepat menghasilkan uang untuk bisa biayai kebutuhan makan sehari-hari," kata Thomas. 


Pohon jati 

Saat Thomas kembali dari Manggarai, di desanya sudah memasuki musim penghujan. Ia mulai menanam pohon jati di belakang rumahnya. 

Warga desa disibukkan menanam padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-mayur, namun tidak demikian dengan Thomas. Pemuda itu sibuk memikul anakan pohon jati dari Waikomo yang berjarak 6 km dari desanya. Semua anakan jati itu dibawa Thomas dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan lebat menuju rumahnya. 

"Sehari saya bisa bolak-balik untuk memikul anakan jati empat kali sehingga kerabat dan saudara-saudara sekampung saya bilang, Thomas sudah gila. Mereka heran karena saya bukannya tanam ubi, jagung, atau padi seperti yang mereka lakukan. Justru mereka menilai saya sudah gila karena akan makan daun jati," kata Thomas menirukan cibiran warga desa saat itu. 

Penghinaan itu tidak Thomas acuhkan. Ia tetap fokus menghijaukan lahan gersang tersebut. Thomas teringat apa yang dikatakan Pastor Wesser, "Kalau mau sukses, fokus dan tanam dalam jumlah besar. Jangan kerja tanggung-tanggung." Kalimat itu terus-menerus menyemangati Thomas menanami kebun warisan keluarganya. 

"Karena saya harus membuktikan kepada warga desa bahwa saya benar-benar waras, ingin mengubah lahan tandus dan kering ini dengan hutan jati yang tidak saja menyuplai oksigen untuk manusia, tetapi juga mengubah keadaan gersang menjadi lebih sejuk. Terus terang saat itu saya tidak bermimpi menjadi kaya dengan kayu jati yang saya tanam ini." 


Mulai dilirik 

Seiring waktu, kayu-kayu yang ditanamnya mulai dilirik pemerintah setempat sebagai sampel pengolahan lahan tidur, dan banyak orang ingin membeli pohon-pohon jati yang ditanam. "Karena sudah banyak yang berkurang, saya mencari lahan baru untuk ditanami setiap musim hujan tiba," ujarnya. 

Thomas awalnya hanya menanam di lahan seluas 1 hektare. Karena banyak permintaan kayu jadi, ia kemudian meminta bantuan warga. Ia menggunakan tenaga warga desa untuk menanam lebih banyak lagi kayu jati di lahan kebun miliknya. 

"Saya bayar tenaga per hari Rp30 ribu. Kerabat dan warga desa tidak keberatan bekerja membantu menanam jati di kebun-kebun saya karena mereka ingin dapat uang upah harian. Bagi saya menanam itu menabung," kata Thomas. 

Berkat usaha swadayanya itu, kini sedikitnya 20 hektare lahan dipadati tanaman jati yang sebagian besar sudah dipanen. Bukan semata pohon jati yang ditanam, melainkan juga pohon mahoni. 

"Menurut penelitian ahli tanaman, pohon jati sangat mengisap air, maka saya selingi dengan tanam mahoni karena sifat mahoni ialah menampung air," ujarnya menirukan saran para ahli tanaman komoditas dalam kesempatan kunjungan mereka ke lahan jati yang sudah bisa ditanami. 

Berkat kegigihan menghutankan lahan tidur di wilayahnya, suami Maria Kewa Wutun itu meraih berbagai penghargaan di bidang lingkungan hidup. Antara lain penghargaan dari Bupati Lembata pada 2004 dan penghargaan Penghijauan Swadaya kategori perorangan tingkat Kabupaten Lembata. 

Tidak hanya itu, pada 2006 Gubernur NTT Piet Alexander Tallo menganugerahkan penghargaan sebagai pengelola lingkungan (kalpataru) tingkat provinsi karena telah melaksanakan penghijauan pada lahan kritis secara swadaya. 

Di tahun yang sama, Thomas meraih penghargaan Kalpataru kategori terbaik pertama nasional bidang penghijauan dan konservasi alam dari Departemen Kehutanan RI. 

Thomas berharap pemerintah harus memotivasi warga Lembata untuk terus menanam. Pasalnya Lembata yang masih kering dan panas itu hanya mampu disejukkan dengan menanam dan menanam. 

"Kalau dapat, pemerintah kabupaten, provinsi, dan Indonesia secara umum menirukan gaya Raja Thailand, yang menghadiahi warganya dengan berbagai jenis tanaman dalam setiap kunjungannya, untuk memotivasi warga tanam dan tanam karena dengan menanam kita juga sedang menabung," ujar Thomas antusias.(M-5)

Kamis, 02 Agustus 2012

Harga Kedelai Naik, Pemerintah sibuk cari alasan

Sejak beberapa hari lalu, kelangkaan tahu-tempe di pasar akibat berkurangnya pasokan kedelai di pasar komoditi internasional membuat pemerintah gerah dan kelabakan, bahkan terkesan sibuk mencari kambing hitam penyebabnya. Pasalnya dari kebutuhan kedelai nasional sebanyak 2,2 juta ton setiap tahun, pasokan kedelai dalam negeri hanya mampu mensuplai sebanyak 750 ribu ton.

Ini artinya kebutuhan kedelai dalam negeri sangat tergantung dari para importir besar yang bisa saja setiap saat mempermainkan supply dan demand, terlebih lagi menjelang hari raya rayalebaran, di mana semua kebutuhan pokok naik sampai 20 persen lebih. Anehnya kondisi seperti ini terjadi minimal setahun 2 kali, setiap menjelang hari raya lebaran dan natal-tahun baru, yang ujung-ujungnya rakyat kecil juga yang tercekik lehernya. Belum lagi bila terjadi kepanikan konsumen dikalangan kelas menengah yang biasanya langsung menyerbu sembilan bahan pokok di pasar.

Pemerintah beralasan bahwa harga kedelai naik akibat musim kering di AS yang menjadi pemasok utama kedelai impor, selain itu pemerintah juga berdalih bahwa China menaikan impor kedelai sampai 60 juta ton sekarang – Sehingga harga makin membumbung tinggi tak terkendali.


Jalan pintas atasi harga kedelai naik

Maka untuk mencari jalan pintas akhirnya pemerintah memberi ijin kepada koperasi tahu dan tempe untuk impor langsung, tanpa harus melalui importir besar, dengan tujuan agar bisa lebih murah. Inipun dengan catatan bila koperasi-koperasi yang diberi ijin mengimpor langsung kedelai tersebut tidak ikut bermain karena tergiur keuntungan besar dan aji mumpung ! Sebab yang namanya pengusaha tujuan utamanya tetap mencari keuntungan, baik itu koperasi atau apapun namanya.

Pagi tadi, dilansir Radio Elshinta, pengamat pertanian internasional HS Dillon mengatakan, fenomena melambungnya harga impor pangan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan pemerintah tidak mampu memperbaikinya, meski sudah berganti Presiden beberapa kali. Karena pembangunan ketahanan pangan tidak menjadi prioritas utama, berbanding terbalik dengan di negara-negara maju yang memprioritaskan ketahanan pangan dan diawasi ketat oleh negara. Pemerintah hanya mementigkan pembangunan infrastruktur. Penguasaan lahan-lahan besar oleh konglomerasi maupun perusahaan besar ikut memicu kelangkaan tanah pertanian. “Jadi apapun yang akan dijalankan pemerintah tanpa adanya regulasi dan lahan yang memadai bisa berbuat apa ?” ujar HS Dillon.

Hari ini harga kedelai naik, besok apalagi ?

Kita tentu ingat, Indonesia pernah berhasil swa sembada pangan di era Soeharto, hanya sekali, sesudah itu melempem sampai saat ini. Disamping itu, menurut HS Dillon, “Untuk membangun ketahanan pangan negara, mutlak diperlukan Undang-undang yang baik, menyangkut kepemilkan tanah, land reform untuk petani, penataan peruntukan tanah dan sebagainya. Disinilah peran DPR sebagai pembuat Undang-undang harus bisa menyelesaikan itu,” ujarnya kepada Elshinta.

Sangat ironis rasanya Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris, justeru sebagian besar kebutuhan pangannya sangat tergantung pada impor.

Terkait dengan harga kedelai naik, sebaiknya pemerintah segera membenahi sektor ketahanan pangan mulai saat ini juga. Jangan hanya terkesan sibuk mencari kambing hitam. Karena bila hari ini harga kedelai naik, AS dan China masih bisa djadikan kambing hitam sebagai penyebabnya. Lantas kalau besok harga beras naik dan kemudian lusa harga gula naik, siapa lagi yang jadi kambing hitam ? (Ded/Red)

Senin, 02 Juli 2012

RPP Tembakau Disahkan, Ini Sederet Pertanyaan yang Harus di Jawab Menkes

Jakarta, Seruu.com - Direktur Riset dan Advokasi Katalog Indonesia, Andriea Salamun mengirimkan surat terbuka berisi 14 pertanyaan yang ditujukan kepada Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi terkait akan disahkannya RPP Tembakau.
Berikut isi surat terbukanya:

Surat Terbuka untuk Menteri Kesehatan
Terkait rencana pemerintah yang akan segera mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau.

Menurut kami seharusnya pengaturan dalam regulasi harus mengandung dan mengundang kebijakan dan kearifan serta tidak menimbulkan problem baru di masyarakakat.

Beberapa pertanyaan Katalog Indonesia yang harus dijawab Menteri Kesehatan, Ibu Nafsiah Mboi, antara lain:

1) Apakah RPP Tembakau sudah mengadopsi semua kepentingan stakeholders tembakau dan produk olahannya, sehingga ketika diundangkan tidak menimbulkan pertentangan di masyarakat?
2) Apakah RPP Tembakau diambil dari norma dan kaidah hukum Indonesia. Dari mana data dan sumber galian legal drafting RPP, apakah murni digali dan diadopsi dari hukum yang hidup dan berkembang di Indonesia?

3) Mengapa RPP tentang tembakau dan produk olahannya menjadi prioritas Kemenkes baru, apakah ada urgensinya sehingga RPP ini diprioritaskan?

Bukankah banyak produk barang/makanan yang jauh lebih berbahaya, mengapa tidak pernah menjadi bahasan prioritas Kemenkes?

Misalnya tentang asap kendaraan bermotor, asap pabrik, limbah pabrik, limbah tambang atau makanan yang mengandung zat adiktif berbahaya seperti fast food, junk food dan beribu jenis jajanan anak-anak Indonesia, yang mengandung zat adiktif jauh lebih berbahaya dari tembakau.

4) Apakah definisi derajat kesehatan masyarakat hanya didasarkan pada terbebasnya asupan asap rokok?

5) Apakah rokok menjadi penyebab ancaman pelemahan derajad kesehatan masyarakat dan masa depan anak-anak Indonesia?
Apakah anak-anak akan terenggut masa depannya jika menjadi perokok?

6) Apakah dengan merokok karakter dan masa depan anak Indonesia terdegradasi?

7) Apakah asap rokok menjadi biang dari segala persoalan anak-anak dan derajat kesehatan masyarakat Indonesia?

8) Apakah dengan terbebasnya masyarakat dari asap rokok martabat bangsa akan terdongkrak?

9) Apakah Kemenkes sudah meyakini secara metodologi atau norma keilmuan yang sahih bahwa rokok yang menjadi biang dari segala penyakit seperti yang tercantum dalam label warning dalam kemasan rokok?

10) Apakah Kemenkes sudah memiliki data dari seluruh perokok di Indonesia berapa data statistik perokok yang menderita penyakit seperti yang diklaim dalam label warning bungkus rokok?

11) Jika kemudian dengan regulasi yang ada, pabrik olahan tembakau gulung tikar, apakah Kemenkes bisa mengatasi dampak penutupan dan antrian pengangguran akibat penutupan pabrik rokok?

12) Apakah bisa memberi mereka pekerjaan atau paling tidak santunan sosial, kalau bisa untuk berapa lama?

13) Apakah RPP itu sudah diperhitungkan manfaat dan mudharatnya jika diundangkan?

14) Jika mudharatnya lebih besar apakah Kemenkes sudah siap mengantisipasi efek dominonya?

Jika bermanfaat siapa yang diuntungkan, repulik dan publik atau penguasa modal (asing) dan segelintir orang pembayar pajak besar?

Jakarta, 02 Juli 2012

Andriea Salamun (Direktur Riset dan Advokasi Katalog Indonesia)


Untuk diketahui, Lembaga Katalog Indonesia dibentuk sebagai lembaga yang fokus pada penguatan demokrasi melalui pemanfaatan akses informasi publik. Kegiatan yang dilakukan antara lain, kajian kebijakan, riset, kampanye media dan sebagainya. [Cesare]
sumber : http://www.seruu.com/utama/nasional/artikel/rpp-tembakau-disahkan-ini-sederet-pertanyaan-yang-harus-di-jawab-menkes

Selasa, 19 Juni 2012

PETANI MESTI MELEK TEKNOLOGI

Petani masa kini harus mengikuti perkembangan jaman serta teknologi informasi. Bukan saatnya lagi petani hanya mengandalkan cangkul dan sabit saja. Mereka pun dituntut untuk memegang laptop dan melek terhadap internet. Tetapi bukan berarti mengabaikan tugas pokok bercocok tanam mengolah lahan pertanian. Justru dengan bantuan teknologi, hasil pertanian bisa lebih berkembang secara pesat bahkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Persepsi demikian sudah tertanam dalam benak Hendra "Kribo" sejak dirinya merintis pertanian berbasis organik pada tahun 2002 lalu. Bahkan dari hasil pertanian tersebut dirinya mampu menyejahterakan anggota keluarganya hingga masyarakat yang bermukim di lingkungan Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya.
Ketika memutuskan berhenti dari pekerjaannya lamanya sebagai guide turis di pulau Bali dan pindah haluan menjadi petani organik, Kang Kribo --panggilan akrab lelaki berusia 53 tahun ini, telah menemukan jalan hidupnya. Bertani padi organik menjadi tumpuan utama dia hingga mampu menyekolahkan ke-4 orang anaknya. Bahkan yang paling besar kini kuliah di Institut Pertanian Bogor. 
Hasil pertanian organik yang ia kembangkan bahkan telah dilirik oleh beberapa negara besar, seperti Jepang, Malaysia, Australia, bahkan Amerika. Tidak jarang pula Kang kribo keliling dunia hanya untuk sekedar memberikan kelas kuliah khusus bagi para profesor pertanian di sejumlah negara tersebut. Beberapa kali ia pun sempat ditawari guna melakukan kontrak kerja menjadi fasilitator pertanian di negara-negara adikuasa. Tetapi demi tanah air, tawaran tersebut tentu saja ditolaknya mentah-mentah, dan Kang Kribo memilih menjadi petani mandiri mengandalkan 1 Ha lahan warisan orangtuanya.
Kini dengan lahan pertanian yang terus bertambah, Kang Kribo makin mempertajam sistem pertanian organik. Pola ini lebih menguntungkan dari pada pertanian konfensional yang masih ketergantungan terhadap pupuk urea serta pestisida kimia. Pasalnya hasil pertanian organik ternyata bisa berlimpah 3 kali lipat bila dibanding pertanian konfensional. 
"Hasil panen tiga kali lipat dan harga jual beras organik jauh lebih lebih mahal dibanding beras biasa," ujarnya.
Meski pada awalnya ia sempat disebut orang gila, karena menanam padi hanya satu butir saja untuk setiap rumpunnya, tetapi kini setelah mereka melihat hasil pertanian organik, semua orang malah datang dan ingin belajar pola pertanian yang dirintis lelaki ini.
Setelah memenuhi pasar lokal dan kebutuhan keluarga, beras organik inipun mulai diimpor ke beberapa negara. Bahkan setiap tahunnya order permintaan padi organik terus bertambah. Kini tugasnya hanya satu, yakni bagaimana mengubah pola pikir petani lama yang masih ketergantuan cara konfensional guna beralih 
menjadi petani organik seperti dirinya. 
(Aris MF/ ”KP”)***

Kamis, 07 Juni 2012

Rp 437 Miliar Untuk Perkebunan dan Pertanian Perbatasan Sarawak

Sintang Pemerintah positif mengucurkan anggaran hingga Rp 437 miliar untuk daerah yang berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia yakni Kabupaten Sintang, Kalbar. Nantinya, dana sebanyak itu dipergunakan tidak hanya untuk pembangunan insfrastruktur seperti jalan dan listrik, melainkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat seperti pertanian dan perkebunan.

Hal itu dinyatakan Staf Ahli Menteri Percepatan Daerah Tertinggal (PDT) Rahmat Tatang disela-sela Rapat Kordinasi Percepatan Pembangunan Daerah Perbatasan di Daerah Tertinggal di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Rabu (6/6/2012).

“Membangun infrastruktur tidak sejajar dengan percepatan ekonominya. Seperti membangun jalan lalu ekonomi tumbuh. Kalau pemikirannya seperti itu, yang tumbuh orang-orang kuat. Yang lemah minggir ke pedalaman. Karena itu yang dibangun adalah bagaimana masyarakaat menjadi perlu. Pembangunan ekonomi didukung dengan membangun manusiawi yang memadai, pendidikan, kesehatan, ekonomi masyakat,“ kata Rahmat Tatang.

Tatang pun menegaskan, pemerintah daerah tidak perlu malu dengan berbasis pertanian ataupun perkebunan.

“Di dunia, tidak ada pemerintah yang bangkrut karena berbasis pertanian. Bahkan Brasil mampu mengalahkan kapitalis dengan pertanian. Kebijakan Kabupaten Sintang sudah betul, berbasis pertanian dan perkebunan,“ ungkap Rahmat Tatang mendukung.

Menurut Bupati Sintang, perkebunan dan pertanian menjadi pilihan karena 80 persen penduduk mengandalkan ekonomi pada 2 sektor tersebut.
“Beginilah realita fakta yg kita hadapi. Dengan luas 21.000km2, ini lebih luas dari propinsi Banten. Jumlah penduduk kami 369.000 jiwa, 80 persen bekerja di perkebunan dan pertanian. Karet, sawit, lada, kakau, kopi. Persoalan kami adalah pupuk. Kami minta gudang pupuk yang bisa mencover kabupaten disini,“ tukas Bupati Sintang Milton Crosby dalam kesempatan bersamaan.

Sintang merupakan wilayah berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Untuk mencapai Sintang dapat menggunakan pesawat kecil dari ibukota propinsi Kalbar, Pontianak selama 45 menit. Namun karena tiket yang mahal, warga masyarakat lebih sering menggunakan kendaraan darat yang memakan waktu hingga 10 jam untuk jarak 400 km. Sementara jalan alami melewati Sungai Kapuas, mulai ditinggalkan kecuali untuk distribusi sembako.

(Ari/mad)