Selasa, 10 April 2012

Anies Baswedan : Saya Harus Pulang ke Tanah Air

foto

TEMPO.COJakarta - Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan tidak pernah membayangkan dirinya meniti karir di luar negeri. Doktor lulusan Northern Illinois University, AS, ini menilai kembali ke Indonesia setelah studi di luar negeri adalah sebuah keharusan. 

“Saya dididik dan dibesarkan di negeri ini. Saya memiliki utang melakukan sesuatu di sini,” kata Anies saat dihubungi, Senin 9 April 2012 siang. 

Studi Anies di Amerika Serikat itu dimulai pada 1997, ketika ia menerima beasiswa dari Fulbright. Selanjutnya ia menjalani studi di School of Public Policy University of Maryland hingga tahun 1999. Setelah lulus, Anies kembali mendapat beasiswa dari Northern Illinois University. Ia menjalani studi doktoral dan lulus pada 2004. 

Setahun setelah lulus, Anies tak langsung pulang ke Indonesia. Ia mengaku kehabisan uang sehingga harus bekerja setahun di sana. “Saya kerja hanya untuk ongkos pulang dan sekolah anak,” katanya. 

Dari pengalamannya ini ia kemudian mendorong mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk melakukan hal yang sama. “Setelah kuliah jangan langsung pulang. Kerja dulu di sana satu atau dua tahun,” katanya. 

Menurut Anies setidaknya ada empat hal yang bisa dipetik mahasiswa Indonesia ketika bekerja di luar negeri. Pertama ia akan mendapat pengetahuan baru. Kedua, ia bisa mengasah kemampuan berbahasa. “Bukan bahasa perkuliahan saja,” katanya. Ketiga, ia bisa membangun relasi jaringan internasional. Keempat, ia bisa mendapat modal baik dalam bentuk materi maupun pengalaman. “Kalau langsung pulang hanya dapat yang pertama saja,” katanya. 

Jikapun ada mahasiswa yang menetap di luar negeri, kata Anies, itu karena ilmunya bisa optimal digunakan di sana ketimbang di Indonesia. Sebabnya, ia menilai dalam beberapa hal sarana di Indonesia masih minim. 

Ia menyebut seorang rekannya bernama Taruna Ikrar, Doktor jebolan Inter Departemental of Neurosciences, University of California. “Dulu dia kerja di Puskesmas, sekarang ahli saraf otak,” katanya. Banyak temuan penelitian Taruna kini sudah dipatenkan. Jika Taruna kembali ke Indonesia, Anies ragu penelitiannya akan optimal. 

Anies mengatakan sudah saatnya kini sektor swasta mengambil inisiatif untuk mendorong potensi ilmuwan dan lulusan luar negeri. “Orang yang memiliki potensi akademis yang tinggi harus didukung. Tapi jangan hanya berharap pada pemerintah,” katanya. 

ANANDA BADUDU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar