Kamis, 19 April 2012

Peran Wanita dalam Kebangkitan Bangsa

SEBUAH hadis menyatakan, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan betapa mulianya Islam dalam memandang seorang wanita yang diibaratkan sebagai perhiasan dunia paling baik. Namun, ternyata realitanya justru bertentangan dengan hal itu. Wanita saat ini telah mengalami keterpurukan. Kasus-kasus pelecehan seksual,trafficking, penyiksaan, kerap dialami oleh wanita. 

Tidak hanya itu, sistem kapitalisme dengan kondisi ekonomi yang mencekik saat ini, juga memaksa wanita untuk membanting tulang. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh para pengusaha dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang sangat luas untuk wanita. Tentu, dengan syarat berpenampilan menarik. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka modal tenaga dan tekad pun jadi. Alhasil, banyak wanita yang berduyun-duyun mendaftarkan diri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW).  
Pahlawan devisa, begitulah pemerintah menyebutnya. Dengan bangga dan tanpa rasa berdosa, hampir setiap tahun pemerintah memberangkatkan ratusan bahkan ribuan wanita untuk menjadi budak di negeri orang (baca: TKW). Para wanita yang menjadi TKW tersebut tentunya bukanlah atas dasar sukarela. Namun, mereka bekerja karena himpitan ekonomi keluarga. Kondisi inilah yang akhirnya memaksa wanita untuk turut melakukan pekerjaan berat, demi mendapatkan penghasilan (uang) untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Walaupun taruhan yang harus mereka bayar tidak sedikit pula, siksaan dari majikan, pelecehan seksual, bahkan tak sedikit dari mereka yang harus kehilangan nyawa. Semua itu rela mereka lakukan demi uang.
 
Di tengah permasalahan wanita yang sedang terjadi, kaum feminis berlomba-lomba menjadi malaikat penyelamat bagi wanita. Segudang tawaran solusi pun diberikan. Salah satunya adalah ide persamaan gender yang dibungkus rapi dalam wadah bernama emansipasi. Memandang wanita sama atau bahkan lebih tinggi daripada laki-laki. Jika selama ini laki-laki yang bekerja, maka tidak menutup kemungkinan wanita juga bisa melakukannya. Wanita tidak boleh terus menerus tunduk di bawah laki-laki (suami), tetapi wanita harus bisa lebih dari laki-laki. Kaum feminis telah menghembuskan hawa persaingan di antara wanita dan laki-laki.
 
Namun, solusi ini ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah, dan justru menimbulkan masalah baru. Ketika wanita dituntut untuk berada di luar rumah dan disibukkan dengan pekerjaan, maka tidak jarang dari kaum wanita tersebut yang akhirnya mengorbankan keluarga dan anak-anaknya. Banyak rumah tangga yang berujung pada perceraian dikarenakan wanita (istri) yang tidak mengurusi rumah tangganya dengan baik. Padahal, tugas utama wanita sebagai istri sejatinya adalah menjadi ibu sekaligus pengatur rumah tangga (ummu wa rabbatul bait). Sedangkan bekerja bagi seorang wanita bukanlah menjadi kewajiban, melainkan suatu kebolehan (mubah).
 
Islam membagi peran wanita menjadi dua, yaitu peran domestik dan publik. Dalam ranah domestik (keluarga), wanita memiliki peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, pencetak generasi bangsa. Sedangkan dalam ranah publik, wanita memiliki peran sebagai anggota masyarakat, yang diharapkan mampu membangkitkan bangsa. Kedua peran ini hanya bisa terlaksana dengan sempurna, jika diikuti dengan adanya sistem negara yang mendukung.
 
Rizki Amelia Kurniadewi 
Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya Malang
 

1 komentar: